Rabu, 13 Maret 2019

Cara Menghilangkan Virus Malware "Browser Terbuka Sendiri"

Halo pembaca sekalian.

Apakah kamu pernah sedang asyik berinternet ria lalu tiba-tiba browsernya membuka tab baru dan menuju ke halaman website yang tidak kamu tahu? Mungkin bagi yang pernah membuka situs untuk menonton film pasti tahu apa yang saya maksud, yaitu semacam iklan pop up yang muncul ketika kita meng-klik salah satu bagian tertentu dari sebuah website lalu kemudian dengan sendirinya membuka situs iklan tertentu. Memang dengan kita menuntup tab tersebut, maka "gangguan iklan" pun sudah teratasi.

Namun apa jadinya jika tanpa membuka situs apapun, browser yang ada di pc atau laptop kita mendadak terbuka dengan sendirinya menuju halaman yang tidak dikenal lalu men-download berbagai macam aplikasi yang tidak kita kenal?


Kebetulan tadi pagi saya iseng mengunduh game full version tanpa bayar alias bajakan, eh pas di-install malah browser-nya kena virus. Alhamdulillah, sekarang sudah tidak apa-apa heheh... Pelajaran berharga untuk tidak mengunduh apa pun di situs tidak terpercaya! Kecuali terpaksa sih hehe..

Tahap-tahap yang saya gunakan untuk menghilangkan virus tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Download aplikasi Malware Bytes  (Klik di sini)
  2. Ikuti langkah-langkah pemasangan aplikasinya 
  3. Setelah terinstall, buka aplikasinya lalu klik "Scan now" untuk memulai menghilangkan virusnya.
  4. Biasanya anti virus ini akan merekomendasikan anda untuk restart, lakukanlah restart setelah anti virus selesai scan.
  5. Jika setelah komputer anda menyala kembali tidak mengalami browser yang terbuka dengan sendirinya, maka anti virus telah sukses menghilangkan virus. Namun saya sarankan untuk scan kembali untuk memastikan tidak ada virus yang tersisa.

Sekian dari langkah-langkah cara menghilangkan virus malware. Saya ingatkan, megunduh aplikasi di website yang tidak resmi sangat rentan terhadap virus. Semoga bermanfaat.



Saya mendapatkan referensi dari sini.




Senin, 28 Januari 2019

Politik di Media Sosial

Pasti kalian pernah kan menemukan postingan yang menurut kalian kontradiktif dengan pandangan hidup kalian? Sering banget gue nemuin di beranda Facebook gue yang ngirim postingan tentang hijrah. Gue seneng kalo ada orang yang share sugesti baik atau motivasi agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik, misal kaya quotes ceramah, quotes nya Mario Teguh, video ceramah dan lain sebagainya. Tapi ini lain lagi, topiknya tentang politik.

Jujur, waktu masih sekolah dulu, gue gak begitu ngikutin tentang tren perpolitikan di Indonesia, cuma asal tau partai, dan paslon capres dan cawapresnya saja. sampai akhirnya gue lihat berita tentang "FOKE" gagal menjadi gubernur DKI Jakarta. Semacam kaya ngga seneng gitu doi dan jadi baha perbincangan di ruang makan rumah gue.

Selanjutnya pas masuk kuliah, gue pun mulai lebih banyak lihat berita politik dalam negeri namun hanya berita besarnya aja sih yang diikutin, salah satunya ketika ada capres yang gagal lalu "katanya" membuat aksi konvoi dengan mobil besar. Entah itu perintah dari capres tersebut atau bukan, yang jelas hal itu pernah menjadi candaan dalam obrolan gue dengan teman-teman gue.

Balik lagi ke pembahasan awal.
Postingan hijrah dari teman gue ini sama sekali tidak senang dengan pemerintah Indonesia zaman sekarang. Katanya pemerintah zaman sekarang ingkar janji, lalu program revolusi mental yang dibuat pemerintah dirasa makin memperburuk negeri ini, terus hutang semakin banyak.

Lalu ada lagi dari kubu lain bilang bahwa pemerintah zaman sekarang sudah lebih baik dengan banyaknya  pembangunan infrasruktur, lalu juga bilang pihak lain cuma nyebar hoax, dll.

Gue tuh jadi bingung sendiri harus berada di pihak mana, karena postingan itu mampu mempengaruhi gue untuk turut mendukung. Semuanya tuh seakan-akan kaya pesan berantai di grup Whatsapp yang suka disebar sama kaum bapak atau ibu tanpa di cross check kebenarannya. Jadi ujung-ujungnya cuma sekadar dibaca lalu ditinggalin.

Herannya banyak dari kita yang sampai beredebat, lalu berantem cuma karena pandangan politiknya berbeda.

Si capres dan cawapresnya santuy aja, lah kita yang jadi rakyat aja malah berantem. Heran kan?

Harusnya kita adu program untuk menjadi negara yang lebih baik ke depannya, jangan malah musuhin saudara sebangsa, setanah air gitu.

Huh..

Media sosial memang menjadi jembatan bagi siapa saja untuk berinteraksi sosial lintas negara. Siapa pun bisa memakainya bahkan untuk orang jahat sekalipun. Maka berhati-hatilah, bisa saja ada pemecah belah bangsa yang sedang memainkan perannya di sana.

Apapun pandangan kalian terhadap politik, tetaplah jujung tinggi persaudaraan. Jangan sampai hubungan kita dengan Tuhan baik, tapi dengan sesama manusia kita bermusuhan. Semoga kita terhidar dari fitnah.

Jumat, 18 Januari 2019

Ketakutan Menggerakan Kita

Pernahkah kalian takut akan sesuatu? Takut akan hantu, takut belalang, takut kecoa, takut hantu dan lain sebagainya. Perlu kita ketahui, takut itu wajar buat makhluk hidup. Bahkan dalam agama Islam pun kita harus takut pada murka Allah.

Takut yang mau gue bahas disini adalah takut menghadapi kenyataan. Ini sering banget gue alami ketika masih sekolah dulu sekitar tahun 2000 an lah. Walaupun samapi sekarangketakutan seperti itu masih ada, tapi setidaknya ketakutan yang gue alamin lebih ke arah yang positif.

Misalnya, ketika gue disuruh untuk melakukan kegiatan membagikan undangan pertemuan warga RT, sebisa mungkin gue kasih ke semua warga tanpa terkecuali. Karena jika tidak gue bakal diomelin habis-habisan sama bokap gue, yang di mana beliau adalah ketua RT nya. Atau perihal keagamaan. Kalo gue ngga sholat, nanti gue bakal masuk neraka.

Iya, gara-gara ketakutan kita harus berbuat sesuatu agar hal itu tidak terjadi. Jangan sampai ketakutan yang kalian takuti saat ini malah membuat kalian mundur. Contohnya takut untuk bertanya saat lu ngga ngerti sama pelajaran yang sedang diajarkan sama guru lu. Hal kaya gitu akan menghambat proses belajar lu yang di mana lu harus mengerti.

Gue pernah punya teman. Tapi dia selalu berpikiran negatif terhadap teman lainnya yang suka bercanda, termasuk bercanda dengan dirinya. Dia kurang bisa menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Alhasil, dia selalu menganggap negatif temannya itu, padahal tidak seburuk yang dia pikirkan. Kaya penghiatanlah, pecundanglah dll. Dia pun juga menjauhi teman-teman kelasnya.

Mugkin dulu gue orangnya pemalu, pendiam atau apalah yang pernah dibilang, tapi seiring berjalannya waktu, mau ngga mau gue pun berusaha untuk menghilangkan sifat tidak menguntungkan itu demi masa depan juga. Masa iya gue berinteraksi dengan client malu? Maka dengan alasan pendewasaan diri, gue ubah mindset nya: Gue takut gagal. Gue takut masuk neraka.

Dengan alasan itu, tentu membuat gue lebih positif dalam beraktifitas walaupun dibalik positif itu ada ketakutan. Lalu bagaimana jika gue gagal? Tentu itu menjadi tekanan untuk diri sendiri agar menjadi pribadi yang lebih hati-hati lagi dan sukses di masa depan. Semoga saja.

Minggu, 13 Januari 2019

Sekilas Pengalaman Kerja di Bidang Marketing

Hai.

Udah tiga hari ini gue kerja sebagai Direct Sales menawarkan kartu kredit dari BCA. Ekspektasi gue itu bakal langsung di tempatin di kantor cabang sesuai domisili, tapi kenyataannya belum.

Mungkin harus tunggu beberapa hari atau minggu untuk bisa di tempatkan sesuai domisili. Karena saat ini gue masih harus kanvas ke calon nasabah gue. Dua hari di Mall Mangga Dua, dan sehari di ITC Cempaka Mas. Sedangkan rumah gue di Bekasi, dan pulangnya sore sekitar jam tiga atau empat sore naik motor, kereta dan trans Jakarta.

Pulang-pulang mandi, sholat Isya, tidur. Sebenarnya kerjanya sih enjoy aja, macam kaya sales pada umumnya. Hanya saja ketika pulang ke rumah bawaannya capek banget. Padahal hanya menawarkan produk terus menulis aplikasi calon nasabah kita. Mungkin karena perjalan pulangnya aja yang bikin lelah banget. Apalagi kita tau Jakarta macetnya gimana sekarang. Bawaannya pingin terbang aja wkwkw

Selama gue kerja, gue selalu dipantau oleh seorang supervisor. Untungnya beliau selalu menyemangati gue untuk terus berusaha dan tidak lupa setiap selesai bekerja beliau mengungkapkan rasa terima kasihnya.

Selain itu, ada juga senior kelihatannya sudah 40 tahun keatas bekerja bersama saya dan teman satu tim saya. Ibarat game Final Fantasy, dia cuma jadi guest dalam party. Terlepas dari itu, beliau juga berpesan untuk tidak membuat masalah. Dia tidak mengungkapkan dengan detil maksudnya apa, namun itu cukup untuk pengingat gue buat selalu mawas diri.

Gue pun belajar beberapa trik dari senior gue itu. Namun sayangnya, sampai gue pulang, beliau belum mendapatkan hasil saat itu.

Gue juga bertemu dengan senior yang sebaya dengan gue. Gue pun juga mendapat lagi ilmu tentang marketing.

Gue nulis blog ini hanya sebagai pengingat bahwa gue pernah bekerja di bidang marketing dan ini gak mudah ya, lu harus terbiasa dengan penolakan, dan gak boleh malu ketemu sama orang. Entah bakal bertahan lama atau gak, karena gue pun juga ada goals yang ingin diraih, yang jelas gue cukup banyak mendapat pelajaran berharga di sini. Walaupun cuma sebentar.

Rabu, 11 Juli 2018

Bersyukur

Pola pikir saya telah dibentuk oleh lingkungan sekitar saya. Banyak faktor yang menjadikan saya seperti sekarang. Hidup serba berkecukupan dari harta orang tua membuat saya merasa lemah jika dihadapkan dengan kesukaran. Bayangkan saja, saya adalah anak tunggal, Ayah dan Ibu saya bekerja. Belum lagi banyaknya larangan yang dibuat oleh orang tua saya yang ternyata berbanding terbalik dengan aturan orang tua teman-teman saya yang lain. 

Mereka bebas bermain ke mana pun mereka mau, sedangkan saya hanya bermain di rumah, padahal saya juga perlu melatih diri untuk terbiasa bergaul dengan yang lain. Tidak perlulah saya pikir untuk bermain sampai larut malam, sampai sore pun juga sudah cukup.

Belajar, sebuah kegiatan yang paling membosankan yang pernah saya lakukan. Tak ada pembimbing yang rela mengajari saya sampai bisa. Bahkan orang tua saya pun cukup kerepotan dengan urusannya masing-masing, tak ada waktu untuk mengajari saya sampai bisa. 

Masih ingat dalam ingatan ketika SD, PR saya dikerjakan oleh Ibu saya. Ironis. Alih-alih membantu pekerjaan saya, mental manja anaknya pun dipelihara.

Membuat janji dengan teman. Saya pernah tidak menepati janji untuk bertemu dengan teman saya karena ibu saya melarang "Baru juga sembuh udah mau main aja!". Sungguh tak tega saya membatalkan untuk ke acara itu.

Pemikiran orang tua yang hanya memiliki satu anak ini memang agak menyebalkan. Terkekang dalam dunia idealistis orang tua membuat saya untuk selalu mencari celah untuk mendapatkan segarnya kebebasan di luar sana. 

Berbohong memang satu-satunya cara untuk mendapatkan yang saya inginkan saat itu karena sudah tak ada jalan demokrasi di rumahku. Pulang terlambat karena urusan organisasi kampus menjadi topik hangat yang dibahas oleh keluarga. Beruntungnya mereka masih mentolerir perihal itu dan memberikan nasihat bahwa saya tidak boleh menginap. Meski sudah dinasehati untuk tidak menginap, saya masih saja menginap.

Pada akhirnya saya pun mendapat omelan dari orang tua saya. 

Akhirnya saya sampai suatu waktu di mana saya tidak memiliki pilihan lain selain bersyukur. Ya bersyukur karena ada berkah tersembunyi walaupun di luarnya terasa "menyebalkan". Saya perlu melihat lebih dalam terhadap apa saja yang telah Tuhan berikan kepada saya selama ini selain telah menjadi sarjana. 

Kasih sayang orang tua sungguh luar biasa! Di samping perlakuan mereka terhadap anaknya yang saya anggap keliru pada zaman sekarang, mereka telah melakukan yang terbaik. Tak ketinggalan orang-orang baik yang selalu memacu untuk menjadi lebih baik lagi pun juga luar biasa.

Pemikiran saya tentang rasa syukur melebar dan memunculkan aspek baru dalam benak saya: tantangan.

Segala apa pun yang ada di dunia ini adalah tantangan. Bukan hanya sekedar tantangan bermain Mobile Legend, balap-balapan atau yang lain. Tetapi jiwa ini pun memiliki tantangannya sendiri, salah satunya adalah bersyukur, bersyukur atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita.

Selasa, 29 Agustus 2017

Masa Depan Seseorang Sulit Diprediksi

Halo

Pernahkah para pembaca sekalian memiliki teman yang bisa dikatakan memiliki perilaku yang buruk? Misalnya teman anda suka membolos saat sekolah atau bekerja, suka membuat onar, mencuri barang orang, menipu dll. Tentu saja anda menghindari orang tersebut ketika anda tahu sifat sebenarnya. Meskipun anda telah berkali-kali mengingatkannya bahwa tindakannya itu salah, dia tetap tidak berubah, mungkin dilain kesempatan anda "bosan" mengingatkannya dan membiarkannya melakukan hal tersebut dan menunggu dia mendapat konsekuensi dari apa yang dia kerjakan.

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi padanya di kemudian hari. Anda pun mungkin tidak mengira apa yang terjadi padanya 10 tahun kemudian. Ini pun terjadi pada temanku.

Sebut saja mawar (dia laki-laki). Dia adalah seseorang yang suka membuat gaduh kelas. Dia sangat suka ngobrol saat sedang ada guru yang menerangkan di kelasnya. Terlebih lagi nilai ulangan hariannya yang selalu jelek, bahkan guru-guru pun sampai ada yang berargumen bahwa dia tidak akan lulus. 

Tapi di samping itu dia memiliki bakat bermain futsal. Dia sangat baik dalam menggocek lawannya. Ya.. seharusnya dia sekolah atlet saja.. Meski begitu, semua orang punya pilihannya masing-masing, dan nasibnya pun berbeda-beda. Dia bahkan sering ikut turnamen futsal namun dia bertanding tidak mengatasnamakan sekolahnya sekalipun. Entahlah, saya tidak tahu sebabnya. 

Saat pengumuman kelulusan, si Mawar ini dinyatakan lulus. Alhamdulillah. Para guru yang mengajarnya pun bersyukur atas kelulusannya, karena mereka tidak perlu lagi merasa terganggu dengan celotehan si Mawar. Lama tidak mendengar kabarnya setelah lulus, dia sudah menjadi seorang tentara.

Jadi intinya, kita tidak perlu terburu-buru untuk memprediksikan masa depan seseorang hanya karena dia memiliki reputasi yang buruk. Setiap orang dapat berubah menjadi lebih baik dan itu pilihan setiap orang.

Terima kasih ya sudah membaca sampai habis. 


Rabu, 19 Juli 2017

Tentang Tugas Softskill Saya

Assalamu'alaikum

Saya sedang iseng lihat-lihat posting-an tugas saya yang dahulu. Kadang saya berpikir sambil menggelengkan kepala dengan isi tugas tersebut. Tugas itu sudah ada sejak sebelum saya kuliah. Mengapa demikian? Ketika saya cari di internet, sudah banyak mahasiswa angkatan lawas yang menulis tentang itu. Lalu saya harus apa? Membedakan isinya dari yang sudah ada dengan bahasa sendiri? 

Aduh... 

sumber: http://johanes-budi-walujo.blogspot.co.id/2013/07/soft-skill-vs-hard-skill.html
Kita diperintahkan untuk tidak plagiat. Selama kita copy paste dari blog milik orang lain dengan menyertakan sumbernya, kita akan bebas dari unsur plagiat. Ini adalah jalan "termudah" untuk menyelesaikan tugas. Ditambah lagi, kebanyakan dosen yang mengajar tugas softskill (sebutan untuk tugas yang ditulis di blog) tidak benar-benar memeriksa isi dari blog tersebut. 

Saya merasa dongkol ketika saya mengerjakan tugas saya dengan sungguh-sungguh tanpa copy paste sama sekali, dan teman saya dapat mengerjakannya kurang dari 5 menit. Padahal saya mengerjakannya membutuhkan waktu yang lama. Wah enak banget hidup lu. Lalu ada juga teman yang meminta temannya yang lain untuk mengerjakan tugas softskill-nya, jadi tidak dikerjakan langsung oleh dirinya. Parah kan?

Apakah standar dari sistem penilaian tugas softskill ini sebatas "yang penting ngerjain"? "Yang penting" judulnya persis dengan yang diminta dan isinya banyak? Wohooo... Saya tidak tahu. Terlebih lagi ke-transparanan nilai tidak jelas. Mau minta lihat nilainya tidak dikasih. Jadi saya harus menunggu nilainya keluar di website.

Apakah penting tugas softskill itu? Jika penting, maka seharusnya pihak kampus bisa membuatnya lebih eksklusif lagi, sehingga keterampilan diri bisa benar-benar terukur secara objektif. 

Kenapa tidak melakukan penilaian softskill secara satu persatu di suatu tempat sehingga dosen dapat menilainya langsung lebih objektif? Mahasiswa pun dapat mengetahui bagaimana potensinya seberapa dan dapat belajar lebih baik lagi. Memang jika kita melakukan sebuah penilaian secara satu per satu lebih "menantang" mahasiswa secara mental, tapi menurut saya justru hal tersebut dapat melatih mahasiswa untuk siap terjun ke dalam masyarakat. Semoga kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik dari kemarin.

Sekian dari posting-an kali ini. 

Sejujurnya, saya takut tulisan ini jadi viral. N'tar malah panjang urusan hahaha.. peace.

Wassalamu'alaikum.